Si suami pergi dengan membawa rasa dongkol dihatinya, motornya berhenti disebuah rumah yang paling ujung ditepi kampung, sebuah rumah sederhana yang dekat dengan area persawahan. Setelah si suami yang bernama A ini bertemu dengan yang punya rumah yang ternyata teman akrabnya, si empunya rumah mengajak temannya yang kelihatan gusar ini keluar rumah, diajak duduk-duduk didepan rumah.
” ngapain bawa-bawa teko( tempat masak air) segala? pakai nyalain api unggun segala, apa mau kemping?” tanya A dengan muka masam
” emang mau kemping,… hehehehe… nggak… nggak… cuma mau rebus air, buat wedang jahe” terang sahabatnya
” kan di dapur biasanya udah banyak? ngapain juga repot-repot masak sendiri?” A masih bertanya-tanya
” udah kamu diam aja, duduk manis saja, biarkan aku yang beraksi, OK? ” jawab temannya sambil sedikit bercanda
Setelah menyiapkan perapian, sahabatnya A ini menggantung teko yang berisi air dengan seutas tali dari tambang plastik yang dikaitkan ditengah-tengah 3 tiang dari kayu.
” tolong dijagain ya? aku mau ke dalam dulu, nyiapin singkong rebus “
A hanya diam, udara yang sedikit dingin membuatnya tanpa sadar mendekat keperapian yang sudah mulai menyala, tak begitu lama air didalam teko pun mulai mengeluarkan bunyi air mendidih, suaranya semakin nyaring.
Tiba-tiba A seperti tertidur, alam sadarnya terbawa kesuatu suasana seperti mimpi, disana dia masih ditempat dimana ia duduk, air yang direbus diatas bara api juga masih kelihatan, bedanya dialam itu A melihat api berubah menjadi sosok yang seram dan gagah, A benar-benar heran, tak sampai disitu, A bertambah heran ketika ada 2 suara yang yang sedang becakap-cakap, kalau didengar dari nada bicaranya lebih tepatnya sedang bertengkar.
” hei apa… kamu jangan sok ! mau dilihat dari mana saja, aku lebih unggul darimu, aku dicara-cari ketika orang haus, aku diburu ketika orang membutuhkan kesegaran, sedangkan kamu? hanya dicari ketika orang butuh menyalakan rokok,habis itu kamu dibuang ” suara pertama yang keluar dari teko
” eit… nggak bisa gitu, apa kamu kira kalau nggak ada aku kamu laku dibuat minuman hangat? dalam hal ini aku lebih unggul, kamu nggak ada apa-apanya tanpa kehadiranku”. api dengan lantang membantah proklamasi air
Perdebatan pun kian sengit, masing-masing merasa paling unggul, air mengeluarkan semua perbendaharaan kata, hingga berbusa, api pun tak mau kalah, kobarannya kian membumbung tinggi. tanpa disadari oleh keduanya, tambang plastik yang mengikat teko terbakar, teko pun jatuh airnya tumpah persis diatas bara api yang menyala, api pun padam, tak ada yang tersisa, air tertumpah habis, api pun padam tanpa meninggalkan bara, tinggallah asap yang mengepul.
” A !!! … koq airnya tumpah? disuruh jagain koq malah ngelamun”. suara temannya A menyadarkan A yang entah dialam mana
” Astaghfirullahal Adhim……..” suara A lirih seperti berbisik pada dirinya sendiri
Acara makan singkong rebus dan minum wedang jahe malam itu dibatalkan, A segera pamit pulang.
Dalam perjalanan dia masih teringat mimpinya. Tidak menunggu waktu lama untuk A tersadar kalau yang dilakukannya selama ini salah, bagaimana pun keburukan istri, ada peran suami disana. mulai malam itu A bertekad akan merubah sikap dan cara menyelesaikan masalah rumah tangganya, dia akan mulai merubah dirinya sendiri, sambil membimbing istrinya, agar bersikap lebih dewasa, dan bijak ketika harus dihadapkan pada satu persoalan yang membutuhkan komunikasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar